Pohon Cinta
Waktu berlalu seperti biasa dan Gadis tetap rajin menyirami kebunnya. Hingga suatu ketika Gadis melihat suatu tunas muda di tengah halaman kebunnya. Dia tidak tahu tunas dari pohon apakah itu, mungkin saja rumput liar pikirnya. Namun entah mengapa tak ada niat untuk mencabut tunas muda itu. Sebaliknya semakin rajinlah ia menyiraminya. Bahkan ketika Bunga, temannya menanyakan mengapa tak dicabutnya tunas itu karena merusak mawar-mawar yang tumbuh disana, Gadis menolaknya. Mungkin dia ingin tahu apakah itu kelak menjadi rumput liar atau menjadi pohon yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Pujangga, tetap berteman dengan Gadis. Sukacitalah ia setiap ia bertandang ke rumah Gadis karena benih yang ia jatuhkan disana telah bertunas dan Gadis tak mencabutnya. Namun ia selalu tak pernah memberitahu Gadis tentang hal itu.
Hari berganti hari dan tunas itu semakin besar. Ternyata tunas itu bukan rumput liar tapi suatu pohon yang indah. Batangnya kokoh, indah dan berwarna coklat kehijauan. Daunnya seperti jantung hati dan berkilauan. Kala hari cerah daun itu berwarna kuning cemerlang, saat hari mendung atau hujan, warnanya berubah menjadi keperakan, dan saat pelangi muncul maka daun-daun pohon itu akan berubah menjadi warna-warna pelangi. Saat musim gugur dan dingin daun-daun itu akan rontok di tanah, namun tak seperti pohon jati, pohon ini akan ditumbuhi bunga berwarna merah yang luar biasa indah di setiap cabangnya. Setiap orang yang lewat di depan kebun Gadis selalu memandang kagum pohon itu. Namun tak seorangpun tahu pohon apakah itu, kecuali Pujangga.
Ingin tahu, teman-teman Gadis menanyakan apakah ia tidak takut akan pohon ajaib itu dan mengapa ia membiarkannya tumbuh? Gadis menjawab, " Aku tak tahu, aku hanya tahu pohon ini tiba-tiba tumbuh di kebunku dan aku tak kuasa mencabutnya saat ia tunas. Dan sekarang aku mencintainya, meski tak tahu apa namanya dan bagaimana ia bisa ada di kebunku. Semuanya tak penting. Yang penting aku mencintainya. Bukan karena dia pohon yang cantik tapi keberadaannya memancarkan kehangatan dan kebahagiaan bagiku. Teman-teman Gadis hanya bisa mengangguk, hanya Pujangga yang berdiri disana yang tersenyum lebar dalam hatinya.
Keesokan harinya, pagi-pagi saat Gadis sedang menyirami tanamannya, Pujangga datang menghampirinya. Katanya, "Gadis, aku tahu nama pohon ini karena dulu akulah yang menjatuhkan benih pohon itu ke kebunmu. Namanya pohon cinta. Suatu malam seorang malaikat memberiku benih pohon ini dan berpesan supaya aku memberikannya pada orang yang paling kusayangi dengan syarat tanpa sepengaetahuan siapa pun. Malaikat itu memberitahuku bahwa benih ini kelak akan memberikan kebahagiaan pada orang tsb bila pohon ini dirawat dengan baik. Dan pada saat pohon ini pertama kali berbunga, maka saat itulah aku bisa mengatakannya padamu. Aku bahagia karena kau membiarkannya tumbuh hingga berbunga. Terima kasih Gadis". Saat mendengar pengakuan Pujangga, tersenyumlah Gadis. Kala Pujangga mengulurkan tangan kepadanya, Gadis menyambutnya dengan senyumnya yang termanis. Semuanya karena Pohon Cinta...

2 Comments:
Drucker Has Died
PETER DRUCKER HAS DIED of natural causes at 95. The Claremont Institute's blog has a nice interview with him , conducted in 1984, about his perspectives management theory and "moral sciences." I found this ...
Hey, you have a great blog here! I'm definitely going to bookmark you!
I have a roulette software site/blog. It pretty much covers roulette software related stuff.
Come and check it out if you get time :-)
By
admin, at 6:49 AM
pohon cintanya bagus bangedh...
jadi pengen punya benihnya :)
By
Unknown, at 5:19 AM
Post a Comment
<< Home