My Corner

Saturday, April 15, 2006

Sang Kupu Kupu dan Bunga Sepatu

Pagi ini seperti biasanya Kupu Kupu menyambangi Bunga Sepatu, bunga kesayangannya. Namun pagi ini sambutan Bunga Sepatu tak sehangat biasanya, seperti beberapa hari belakangan ini. Entah mengapa Kupu Kupu tak mengerti. Mungkin akhir-akhir ini matahari bersinar terlalu terik dan membuat Bunga Sepatu menjadi 'moody'. Atau hembusan angin Utara yang merontokkan banyak daun Bunga Sepatu yang membuatnya kesal dan tiupan angin membawa serbuk sari dari bunga lain membuatnya alergi dan bersin2. Tak mengerti dan bingung Kupu Kupu...Tak ada hangat ceria sapa Sang Bunga kala Ia datang. Hanya senyum malas dan pelukan ringan kelopak Sang Bunga Sepatu. Sedih hati Kupu Kupu, sedikit kecewa namun enggan untuk marah dan merajuk. Karena itu pagi ini Kupu Kupu hanya sebentar mengunjungi Bunga Sepatu. Kerinduannya hanya sedikit terbalaskan. Terbang Sang Kupu kembali ke pohon tempatnya bersarang.

Seharian direnunginya Sang Bunga. Ingatannya kembali ke beberapa waktu lampau, kala ia pertama kali melihat dunia dalam wujudnya yang baru. Dulu kala ia masih menjadi Si Ulat, dunianya begitu membosankan. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan makan dan tidur. Dan dunia tampak begitu membosankan. Akhirnya diputuskannya untuk merubah hidupnya. Mundurlah ia dari hiruk pikuk dunia dan bertapalah ia. Sekian lama kemudian ia merasa sudah waktunya ia menjalani hidup yang baru, hidup yang menggairahkan dan penuh warna, meskipun akan banyak tantangan. Keluarlah ia menantang dunia. Dikepakkannya sayapnya yang indah namun rapuh. Oohhh..indahnya dunia ini. Semuanya terasa berbeda. Dilihatnya pohon2 disekitarnya, hamparan taman yang indah, sekarang ini semua dapat dilihat Kupu Kupu dalam kacamata yang berbeda. Dahulu semua bunga, daun, pohon adalah sumber makanan baginya atau tempat untuk mengistirahatkan diri dalam gelungan daun yang nyaman. Sekarang ia dapat mengagumi keindahan alam sekitarnya, dapat mengerti betapa bunga yang berbeda2 akan melengkapi kesempurnaan ciptaan Tuhan. Ingin ia mencari arti hidup yang sejati dalam wujud kupu2nya.

Hingga suatu saat tibalah ia di suatu taman yang penuh aneka bunga. Bunga...ingin ditemukannya bunga yang menjadi salah satu bagian kehidupannya. Dapatkah ia temukan? "Wow...banyak sekali bunga yang ada disini" pikirnya. "Mana yang harus kupilih?"...Apalagi banyak kumbang yang menjadi saingannya memperebutkan madu dan sari bunga. Namun dengan tak gentar, ia melayang ringan ke salah satu bunga paling indah ditempat itu. Ditemuinya Si Mawar, dan disapanya dengan lembut dan manis. Ia bertanya apakah boleh mencicipi madu Si Bungan Mawar, dan Mawar meluluskan permintaannya. Namun....aauuuuu...kala Kupu Kupu terbang ke kelopak bunganya, sayapnya menyangkut duri2 di tangkai Mawar. Sakitnya....Luka menganga di sayapnya. Tak jadi mencicipi madu Mawar, Kupu Kupu yang terluka kembali ke atas pohon sarangnya. Menangislah ia...Tantangan pertama dari dunia gagal dilaluinya. Lama luka disayapnya baru dapat sembuh dan kembali seperti semula. Kupu Kupu enggan kembali ke taman itu. Namun tanpa bunga dan madu, ia tak dapat hidup. Dan sebagian hatinya ingin mencoba kembali tantangan dari dunia lagi.

Kembalilah ia ke taman itu lagi. Kali ini diciumnya bau yang sangat harum. Bau dari Melati. Diputuskannya hinggap di kelopak Melati. Dengan tangan terbuka Melati menyambut Kupu Kupu. Namun madu Melati rasanya pahit...Kembali sedih hati Kupu Kupu karena tak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Sang Kupu Kupu berterima kasih dan mengepakkan sayapnya kembali. Bukan Mawar yang cantik atau Melati yang harum yang pas untuknya. "Hhhhh....yang mana yang kuinginkan, seperti apa yang kucari..." katanya dalam hati.
Dikelilinginya taman itu dan didengarnya keluhan dari Bunga Sepatu. Tertarik mendengar keluh kesah Sang Bunga, Kupu Kupu pun hinggap di tangkai sarinya yang panjang. Seharian itu didengarnyalah keluhan Bunga Sepatu yang merasa dirinya tak cantik dan membosankan. Tak seperti bunga lain yang mempunyai kelebihan yang mencolok. Kumbang pun pergi meninggalkan Bunga Sepatu. Dan ia tak punya teman...

Dengan hangat Sang Kupu mengelus kelopak Bunga Sepatu dengan sayapnya. Ia tersenyum dan menghibur Sang Bunga. Setiap hari Sang Kupu datang dan mendengar cerita Bunga Sepatu. Mereka sering bercengkerama dan menghabiskan waktu seharian bersama. Sang Kupu sering bergelanyut manja pada tangkai sari Bunga Sepatu yang panjang dan nyaman. Cerita Bunga Sepatu tentang kehidupan di taman membuatnya tertarik. Hingga suatu saat Sang Bunga meminta Kupu Kupu menghisap madu yang dihasilkannya. Mulanya Kupu Kupu ragu, takut bila madu akan membuatnya terluka lagi. Namun Bunga Sepatu yang tulus meluluhkan hatinya. Ohhh...ternyata madu yang dihasilkan Bunga Sepatu begitu lembut, manis dan membuat Kupu Kupu bahagia. Inilah yang ia cari katanya dalam hati. Bunga Sepatu meskipun tampak biasa namun menghasilkan madu yang begitu manis, tangkai sarinya yang panjang membuat Kupu Kupu senang bergelayut, daun2nya yang lebar memberikan kenyamanan dan ceritanya tentang dunia membuat Kupu Kupu selalu terpesona. Lebih dari segalanya ketulusan Bunga Sepatu meninggalkan kesan paling dalam di hatinya. Ia, Kupu Kupu jatuh cinta pada Bunga Sepatu. Dan sekarang ini Bunga Sepatu pun bahagia dengan kehadiran Kupu Kupu.

Kembali ingatan Kupu Kupu ke masa sekarang. Saat ini sambutn Bunga Sepatu yang tidak menentu membuatnya gelisah. Ia takut kehadirannya tak diinginkan lagi oleh Sang Bunga. Semua yang yang dimaksudkan baik justru sering tampak mengganggu Sang Bunga. Tak ingin membuat Bunga Sepatu bahagia, ia teringat ajakan para kerabatnya untuk terbang pindah ke Selatan. Sebentar lagi musim dingin tiba, tak akan ada kehidupan di taman itu sementara. Sebelumnya ia emutuskan untuk bertahan tinggal di taman itu karena ada Bunga Sepatu yang dicintainya. Namun saat ini ajakan itu kembali menggodanya. "Yah mungkin ia tak akan merasa kehilangan bila aku pergi. Mungkin ia sudah bosan mendengar ceritaku, dan tergangu dengan kunjungan dan ocehanku setiap hari. Masih ada banyak kumbang yang ada di taman itu yang menemaninya. Namun aku tak ingin meninggalkannya..." kata Kupu Kupu. Hatinya terasa berat..

Sudah beberapa hari ini angin dingin bertiup kencang. Tak pernah dilihat lagi Kupu Kupu di taman ini. Sudah lebih dari seminggu Bunga Sepatu tak mendapat kunjungan Kupu Kupu. Ada kepedihan dan kerinduan tak tertahan dalam hatinya. "Kemanakah ia? Mengapa sama sekali tak ada berita darinya? Ia hilang seperti ditelan bumi" gelisah Sang Bunga. Baru ia sadari betapa ia kehilangan Sang Kupu Kupu. Ia pun teringat pertama kali perjumpaannya dengan Kupu Kupu. Ia pun terpesona oleh kecantikan Sang Kupu, keramahannya dan kesetiaannya mendengarkan ceritanya. Namun seiring waktu berlalu, kehadiran Kupu Kupu yang menjadi bagian dari hidupnya terasa biasa. Bukan ia tak mencintai Sang Kupu lagi. Namun seperti halnya sinar matahari yang membuatnya terus hidup dan udara yang dihirupnya setiap waktu membuat bagi Sang Bunga semua itu memang sudah seharusnya. Ia ada dan ia disana dan aku tahu...sudah. Namun sekarang ini baru disadarinya ketiadaan Kupu Kupu membuatnya perih, sedih dan kesepian. Baru disadarinya bila hari terasa hampa tanpa kunjungan Kupu Kupu. "Baru kusadari betapa penting dan berartinya ia dalam hidupnya" sesal Sang Bunga.

Saat angin Utara berhembus pagi itu, ia bertanya tentang keberadaan Kupu Kupu pada Sang Angin. "Oh, beberapa hari yang lalu, kulihat ia bersama dengan paa kerabatnya megungsi ke Selatan. Mereka tak akan bisa hidup selama musim dingin disini. Udara beku disini akan membuat mereka mati" jawab Sang Angin. Terkejutlah Sang Bunga. Artinya ia tak akan melihat Kupu Kupu yang dicintainya lagi. Disesalinya kepergian Sang Kupu Kupu...

Bulan berlalu dan waktu seakan berlari. Taman semakin sepi. Tak ada lagi kupu-kupu yang terbang kian kemari di taman. Semuanya sunyi. Semua bunga hanya menanti rontoknya daun dan kelopak bunga ke tanah di musim dingin ini. Semuanya seprti dunia mati. Begitu pun Bunga Sepatu. Pagi ini sinar matahari hanya mengintip dari celah2 awan yang tebal. Dingin dan beku...Ditengadahkan kelopak Sang Bunga menatap angkasa. Dilihatnya titik kecil yang bergerak di angkasa. Hmmm...masih ada juga mahluk bodoh yang tak meninggalkan taman ini untuk mengungsi ke tempat yang hangat. Ia hanya menghela nafas panjang. "Andai ia ada disini..."rindu Bunga Sepatu. Dilihatnya lagi angkasa. Ahhh...titik kecil itu tampaknya bergerak mendekatinya...dan........bukankah itu????

Ahhhh...itu...itu...hatinya tak sanggup berkata2 tatkala dilihatnya siapa yang terbang mendekat. Ooh...dikerjap2kannya matanya, takut itu hanya ilusi. Namun bukannya menghilang, soso yang terbang mendekat itu semakin jelas. Kupu Kupu...ia datang kembali. Kupu yang ia rindukan, Kupu yang ia cintai...Kupu yang menjadi bagian kehidupannya yang paling penting! Ia datang....!!! Gembira, senang, sedih, rindu, bahagia dan perih serasa menjadi satu dalam hati Bunga Sepatu.

"Hai.." sapa Kupu Kupu. 'Kupikir aku bisa meninggalkanmu dan pergi mengungsi ke Selatan. Namun aku merubah pikiranku. Meskipun tak ada sambut hangat dan rindumu lagi, aku baru tahu bila hanya bersamamu itu yang bisa kujalani" kata Sang Kupu. Sang Bunga tak mengeluarkan sepatah katapun...tak sanggup. Ia tahu bahwa ia bahagia Kupu Kupu kembali lagi. Namun hatinya perih karena tahu musim dingin akan membuat Kupu Kupu mati. Hidup bunga dan serangga memanglah singkat, namun bila dijalani bersama penyesalanpun akan tiada. Dengan segenap tenaga yang tersisa dibukanya kelopak bunganya untuk Kupu Kupu, dipeluknya dengan hangat Sang Kupu Kupu dalam kelopak bunganya. Mereka bersama menghadapi musim dingin dan menanti musim semi bila masih ada asa.

2 Comments:

Post a Comment

<< Home